Dalam kehidupan sehari-hari
kita tidak pernah bisa terlepas dari aspek suara dan cahaya. dengan suara kita
bisa berkomunikasi dan dengan cahaya kita bisa melihat. Semakin berkembangnya
zaman dan teknologi, bunyi atau suara dan cahaya semakin dimanfaatkan dalam
bidang teknologi, khususnya dalam bidang teknologi kelautan. Bunyi atau suara
adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui
medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, dan gas.
Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu dan udara.
Penerapan bunyi dalam bidang kelautan biasanya dipelajari dalam bidang akustik
kelautan. Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di
laut dengan memepertimbangkan proses-proses perambatan suara, karakteristik
suara, faktor lingkungan dan kondisi target. Metode akustik dilakukan
pertama kali dengan menggunakan lonceng untuk mengetahui kedalaman laut. Dengan
memanfaatkan kecepatan suara yang dihasilkan lonceng kita dapat mengukur
kedalaman perairan. Kecepatan energi suara di perairan dapat mencapai 1500 m/s.
Hal ini dapat dibuktikan dengan melakukan perhitungan kecepatan rambat
suara dengan rumus :
C = 1449.2 + 4.6T – 0.055T2 + 0.00029T3
+ (1.34 – 0.010T) (S – 35) + 0.016z
Kecepatan rambat suara
bergantung pada kompresibilitas dan densitas. Di dalam laut K dan ρ bergantung
juga pada suhu, salinitas dan tekanan. Dimana bila suhu bertambah maka densitas
akan berkurang dan akibatnya kecepatan rambat suara (C) akan bertambah. Makin
tinggi suhu makin cepat perambatan suaranya. Di lapisan permukaan pertambahan C
akibat pertambahan suhu adalah 3 m/sec/oC. Pengurangan
kompresibilitas akibat pertambahan salinitas lebih besar efeknya terhadap C
daripada penambahan densitas akibat penambahan salinitas pada peningkatan
kecepatan rambat suara. Energi suara yang dihasilkan berupa energi elektrik
yang diubah menjadi energi mekanik yang pada saat mengenai target akan
dikembalikan dalam bentuk echo yang nanti akan dikembalikan ke receiver.
Prinsip ini merupakan prinsip dari hidroakusitk.
Hidroakustik adalah suatu
teknologi akustik bawah air yang pada awalnya digunakan untuk kepentingan
militer dan berkembang pesat untuk menunjang kegiatan non-militer seperti
eksplorasi dan eksploitsai sumberdaya laut. Teknologi akustik ini menggunakan
gelombang suara yang dalam dunia navigasi disebut Sonar atau Echosounder.
Sonar (Sound Navigation and Ranging) merupakan teknik yang menggunakan
propagasi suara (biasanya air) untuk menelusuri, berkomunikasi dengan atau
mendeteksi kapal lain. Terdapat 2 jenis sonar, yaitu :
- Sonar Aktif, sonar tipe ini mengirimkan sinyal akustik dan mendeteksi refleksi dari benda-benda sekitar. Adapun manfaat dari sonar aktif adalah untuk mengukur jarak dan arah dari objek yang dideteksi dan ukuran relatifnya dengan menghasilkan pulsa suara dan mengukur waktu tempuh dari pulsa.
- Sonar Pasif, sonar tipe ini merupakan perangkat mendengarkan yang menggunakan hydrophone (mikrofon bawah air) yang menerima, memperkuat, dan proses suara bawah air. Beberapa manfaat sonar aktif adalah untuk mendengarkan ledakan bawah air (gempa bumi, letusan gunung berapi, suara aktivitas ikan, aktivitas kapal) dan untuk mendeteksi kondisi bawah air.
Kemudian pemanfaatan cahaya
dalam bidang perikanan dan kelautan, adalah sebagai alat bantu dalam menangkap
ikan di laut. Pada mulanya penggunaan lampu untuk penangkapan masih terbatas
pada daerah-daerah tertentu dan umumnya dilakukan hanya di tepi-tepi pantai
dengan menggunakan jaring pantai (beach seine), serok (scoop net)
dan pancing (hand line). Pada tahun 1953 perkembangan penggunaan lampu
untuk tujuan penangkapan ikan tumbuh dengan pesat bersamaan dengan perkembangan
bagan (jaring angkat, lift net) untuk penangkapan ikan. Saat ini
pemanfaatan lampu tidak hanya terbatas pada daerah pantai, tetapi juga
dilakukan pada daerah lepas pantai yang penggunaannya disesuaikan dengan
keadaan perairan seperti alat tangkap payang, purse seine dan sebagainya.
Penggunaan cahaya (lampu)
untuk penangkapan ikan di Indonesia dan siapa yang memperkenalkannya belumlah
jelas. Di daerah-daerah perikanan Indonesia Timur, khususnya yang terdapat
usaha penangkapan cakalang dengan pole and line dilakukan sekitar tahun
1950 ditemukan kurang lebih 500 buah lampu petromaks yang digunakan untuk
penangkapan, dimana tempat lain belum digunakan (Subani, 1983). Penggunaan
cahaya listrik dalam skala industri penangkapan ikan pertama kali dilakukan di
Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian berbagai jenis ikan, kemudian
berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II. Di Norwegia penggunaan lampu
berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet baru mulai digunakan pada tahun
1948. Cahaya merupakan bagian yang fundamental dalam menentukan tingkah laku
ikan di laut. Stimuli cahaya terhadap tingkah laku ikan sangat kompleks antara
lain intensitas, sudut penyebaran, polarisasi, komposisi spektralnya dan lama
penyinaran. Biasanya pada bagan digunakan rumpon untuk mengalihkan perhatian
dan mengumpulkan ikan. Namun pada penggunaanya, rumpon dinyalakan secara tidak
otomatis karena masih mengandalkan bantuan manusia. Ide bagan bercahaya ini
diharapkan dapat menciptakan alat yang otomatis dalam penyedian lampu sebagai
alat penarik ikan sehingga penggunaanya lebih efektif dan efisien karena adanya
bantuan sensor cahaya yang bekerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar